Rendang dengan Sasa Santan Kelapa Cocok untuk Bekal Backpacker

Backpacking kini menjadi tren jalan-jalan hemat yang digemari banyak orang. Sayangnya, perjalanan singkat yang menantang dengan bawaan minim ini membuat para backpacker kurang bisa menjaga kualitas gizi makanannya, seperti hanya makan mi instan cup. Padahal, rendang dengan Sasa Santan, Aslinya Santan bisa dijadikan bekal awet dalam perjalanan mereka.

Saya sengaja membuat rendang untuk bekal saya, adik, dan kakak. Ya, kami bertiga tertarik untuk mendaki gunung Papandayan di Garut. Gunung dengan ketinggian 2.665 meter dpl ini cocok untuk kami yang masih pemula dalam hal mendaki gunung. Selain jalan-jalan, ada tujuan lain ke sana. Exactly! Makan di Tegal Alun dan memetik sedikit bunga edelweiss-nya.

Ada 2 jalur pendakian, yaitu jalur Cisurupan dan Pengalengan. Lagi-lagi karena kematiarn kami, ya kami pilih yang termudah, yaitu jalur Cisurupan. Yah, mudah-mudahan jalannya tidak horor seperti namanya. Benar dugaan saya. Alih-alih horor, justru pemandangan menakjubkan saya dapatkan selama pendakian. Masya Allah.

Kami akhirnya sampai di Pondok Saladah menjelang siang. Langsung saja kami gelar tikar dan tenda lalu segera memenuhi tuntutan cacing-cacing dalam perut dengan menikmati nasi plus rendang yang sengaja kubuat banyak untuk bekal 1 malam 2 hari. Adik saya sempat protes, karena khawatir nanti basi dan malah mubazir.

Saya bilang saja, kalau rendang yang saya buat memakai campuran Sasa Santan Kelapa yang kualitasnya bagus. Karena dibuat dari kelapa tua pilihan dan langsung diproses, maka aroma dan rasa se-segar kelapa yang langsung diperas. Citarasanya pun tidak berbeda dengan santan asli perasan sendiri.

Saya pernah baca, kalau tingkat keawetan rendang sehingga tidak mudah basi itu terletak pada kualitas santannya. Jadi, di sana disarankan kalau saya harus menggunakan santan asli tanpa pengawet. Harus hasil parutan sendiri karena keberadaan pengawet dalam santan instan bisa memengaruhi rasa dan aroma.

Tapi saya tahu kalau Sasa punya produk santan tanpa pengawet, jadi saya pun bisa memasaknya dengan mudah, cepat, dan sekaligus banyak tanpa repot dan kelelahan memarut serta memeras kelapa secara manual. Kami makan dengan nasi, rendang daging sapi, dan kerupuk. Semua bekal dari rumah tersebut terasa sangat nikmat, apalagi di alam terbuka.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Tegal Alun, puncak tertinggi untuk dapat menyaksikan keindahan Papandayan. Selain itu, menjadi tempat tumbuh suburnya edelweis. Tidak lupa untuk mengbadikan momen di handphone dan kamera yang kami bawa. Puas menikmati keindahan puncak Papandayan, kami pun turun, kembali ke Pondok Saladah untuk bermalam.

Sampai di bawah, kami kehausan dan segera menghampiri penjual es buah. Saya hanya memamerkan cengiran kuda saat adik dan kakak saya geleng-geleng kepala melihat saya menuangkan Sasa Santan Kelapa ke dalam mangkok es buah. Tiga bungkus santan instan ini memang sengaja saya bawa untuk persediaan.

Bisa saja kami diserbu rombongan serigala terus harus bermalam dalam gua dan hanya bisa maka daun dan air. Bukankah lebih mantap kalau membuat obor lalu memasaknya pakai santan? Tapi itu hanya khayalan saya yang sering nonton film fiksi. Kami sama sakali tidak mengalami kejadian yang hanya ada dalam film-film layar lebar semacam itu.

Tapi akhirnya santan praktis ini saya pakai juga di es buah. Melihat saya sangat menikmatinya, kedua saudara saya ingin mencoba juga. Hmmm, tadi saja menertawakan, tapi akhirnya ingin juga, kan? Saya jelaskan juga ke mereka kalau santan instan produk Sasa ini sudah matang dan siap pakai, jadi ya bisa langsung dimakan.

Santan praktis ini juga cocok untuk segala jenis masakan, makanan, dan minuman. Jadi selain rendang dan es buah, saya bisa menggunakannya untuk membuat kue. Selain hari biasa, santan ini paling sering digunakan saat Idul Adha, terutama saat persediaan daging sapi dan kambing melimpah di freezer.

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.